“Sayangnya saat ini di kawasan danau Toba didirikan banyak bangunan untuk fasilitas wisata dan lain-lain. Hal tersebut tentu selain berisiko terhadap lingkungan pemukiman warga sekitar, juga berpengaruh pada industri yang sedang berjalan. Termasuk PLTA yang menjadi pembangkit listrik PT. Inalum dalam proses produksinya,” imbuhnya.
Sementara, lanjut Totok, kebutuhan domestik aluminum kita sebesar 1,2 juta per tahun. Sedangkan kemampuan PT. Inalum ini hanya mensuplai sekitar 275 ribu per tahun. Sehingga ada kebutuhan yang masih sangat besar di dalamnya. Terlebih lagi, Presiden Prabowo Subianto memiliki visi pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen per tahun. Dimana salah satunya dengan meningkatkan pasar domestik melalui hilirisasi industri.
“Inalum harus mengejar kebutuhan domestik tersebut. Dan menurut saya, Kita dalam rangka mempercepat hilirisasi jangan terkendala soal Zero emition. Apa yang kita punya, kita buat, kalau di situ yang mungkin bisa dilakukan adalah menggunakan PLTA ada hambatan lain, ya gunakan batubara,” ungkapnya.










