Penjelasan ini sejatinya tidak keliru. Jakarta berada di dataran rendah dan secara historis telah menghadapi persoalan banjir sejak era kolonial. Secara umum, penyebab banjir Jakarta dikenal berasal dari tiga faktor utama, yaitu banjir kiriman dari wilayah hulu, fenomena rob di pesisir, serta curah hujan tinggi dan berkepanjangan. Penjelasan Gubernur Pramono berada pada konteks faktor ketiga, yakni hujan ekstrem.
Di sisi lain, kritik WALHI dan LBH Jakarta menyoroti faktor tata ruang, alih fungsi lahan, menyempitnya ruang air, berkurangnya daerah resapan, serta lemahnya perlindungan sistem drainase. Kritik tersebut bahkan menyebut bahwa Jakarta telah kehilangan sekitar 90 persen daerah resapan akibat pembetonan dan pengaspalan. Pernyataan di akun Instagram resmi @pulihkanjakarta pada 23 Januari 2026 berbunyi, “Bilang ke Pramono: Banjir Jakarta bukan cuma karena hujan, tapi kebobrokan tata ruang.”










