Ia mengungkapkan, masyarakat dan pedagang telah terbebani oleh kelangkaan minyak goreng khususnya tipe curah di pasaran.
Setiap upaya telah dilakukan para pedagang agar ketersediaan minyak goreng curah tidak menambah sulit warga dan konsumen.
“Kita banyak menyaksikan pedagang berani menandatangani pakta integritas untuk tidak menjual harga minyak goreng curah di atas HET (harga eceran tertinggi) atau di atas Rp14 ribu per liter,” tuturnya.
Tedy mengambahkan, dirinya rutin turun langsung ke pasar-pasar karena minyak goreng ini menjadi kebutuhan masyarakat dan benar-benar harus dikawal.
Dari pantauan di lapangan, kelas bawah dan UKM sangat membutuhkan minyak goreng curah ini.
“Mereka bukan hanya mengeluhkan, tetapi menjerit. Jadi warga kalau untuk minyak goreng kemasan, kan itu untuk kelas menengah, ya. Jadi besar harapan masyarakat agar harga Rp14 ribu minyak goreng curah di end-user (konsumen pengguna) ini bisa diimplementasikan. Ini yang terus kita upayakan, ke sana kemari,” katanya.











