Oleh karenanya terhadap teori-teori ilmiah yang ada, dihubungkan dengan faktor kondisi psikologis, mentalitas seorang Jokowi, yang tranparansi eksis perihal intelegency yang sederhana dengan kapasitasnya mudah diukur, hobi berbohong dengan asal sembarang janji sehingga mudah dibuktikan kebohonganya oleh publik, menyepelekan sistim hukum (norma dan adab) yang seharusnya sebagai sosok role model, fantasinya yang berlebihan tidak akurat, sehingga jauh untuk dikatakan ilmiah, karena minim acuan data terhadap metode pelaksaan diskresi ekonomi, pelaksanan sistim politik dan hukum, yang terakumulasi banyak perilaku kebijakan (diskresi) yang melewati batas, namun Jokowi selalu berupaya menolak pertanggungjawaban dengan pola fliying fictim, melempar kesalahan kepada bawahannya di kabinet.