Imam Az-Zarnuzi menyarankan, sebaiknya, seorang penuntut ilmu mulai belajar dari ilmu-ilmu yang paling mudah dipahami. Syekh Al-Islam Al-Ustadz Syarafudin Al Uqaili raimullah berkata. “Menurut hemat saya, yang benar dalam masalah ini adalah seperti yang telah dipraktikkan oleh para guru kita untuk murid-murid baru, mereka memilih dan kitab-kitab yang kecil dan ringkas karena hal itu akan lebih mudah dipahami dan dihafalkan. tidak membosankan, dan banyak diperhatikan di masyarakat.”
Seyogianya seorang penuntut ilmu membuat catatan sendiri mengenai pelajaran-pelajaran yang sudah diajarkan, setelah dihafal dan diulang-ulang karena cara itu akan sangat bermanfaat. Selain itu, jangan sampai menulis sesuatu yang tidak ia pahami. “Karena hal ini akan menyebabkan tumpul atau menghilangkan kecerdasan dan membuang-buang waktu,” katanya. Seorang penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh untuk memahami pelajaran dari sang guru, yakni dengan cara merenungkan, memikirkan dan sering mengulang-ulang. Sebab, apabila pelajaran yang baru ini masih sedikit, sering mengulang-ulang, dan direnungkan maka akan dapat di mengerti dan dipahami. Dikatakan: “Menghafal dua huruf kata lebih baik daripada mendengar dua karung dari buku tanpa menghafalnya. Dan memahami dua huruf kata lebih baik daripada menghafal dua karung dari buku.”













