• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Senin, Februari 2, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Isra Mi’raj: Kembali ke Nilai

Isra Mi’raj: Kembali ke Nilai

Hargib by Hargib
17 Januari 2026
in Edukasi, Jurnal, Ragam
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Lalu Mi’raj, adalah Naik Bukan untuk Lari, Tapi untuk Kuat Kembali. Mi’raj bukan eskapisme spiritual. Nabi tidak ‘kabur’ dari realitas, tapi beliau dikuatkan untuk kembali. Apa yang Rasulullah dapatkan, ternyata tidak ada perintah kekuasaan, tidak ada janji harta, tidak ada balasan dunia. Yang diberikan adalah perintah Salat, hadiah berupa ritual sunyi dan bernilai, dialog intim, serta energi batin. Seolah Allah berkata: ‘Jika engkau ingin tetap tegak di dunia yang keras, engkau harus kuat di dalam’.
Salat sebagai Pilar
Hadiah utama Isra Mi’raj bukanlah mandat kekuasaan, strategi politik, atau legitimasi sosial. Yang dibawa Nabi kembali ke bumi adalah Salat. Salat lahir bukan di istana, bukan di masa kejayaan,
tetapi di puncak kesedihan. Karenanya Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan tempat kembali bagi yang Lelah, menjadi ruang aman bagi yang terluka, dan cara langit memeluk manusia yang hampir runtuh. Ketika beban hidup semakin semakin berat, maka semakin penting hubungan vertikal kita dengan Tuhan.
Salat juga menjadi pesan yang sangat simbolik. Salat adalah mekanisme pembentukan karakter, disiplin moral, dan pengelolaan diri. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45). Dalam perspektif manajemen modern, salat adalah bentuk manajemen nilai dan manajemen kesadaran. Salat melatih kepemimpinan diri, kejernihan batin, dan konsistensi moral. Tanpa kepemimpinan diri, kepemimpinan sosial akan rapuh. Tanpa nilai, maka sistem akan kehilangan ruh.
Tentu Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang unggul secara ekonomi, tetapi bangsa yang teguh secara moral. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa peradaban besar selalu dibangun dari manusia-manusia yang memiliki hubungan jujur dengan Tuhan dan Nurani serta nilai.

BeritaTerkait

Duet Prasetyo, Marullah–Arief di PAM Jaya: Pelayanan Masyarakat Melesat, Target Gubernur Pramono 100% Layanan 2029 Kian Nyata

2 Februari 2026

Agus Santoso Tegaskan ZIS Alumni UNPAD Jadi Kekuatan Ekonomi Umat

1 Februari 2026
Page 2 of 5
Prev123...5Next
Tags: Isra mirajkehidupan modernkembali ke nilaiMuhammad SAWSpiritual
Previous Post

MARINIR BANGUN HUNIAN SEMENTARA DAN SALURAN AIR PASCA BENCANA DI TAPANULI SELATAN

Next Post

DPRD Kabupaten Sukabumi Mengucapkan Selamat Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW (27 Rajab 1447 Hijriyah)

Related Posts

Ragam

Duet Prasetyo, Marullah–Arief di PAM Jaya: Pelayanan Masyarakat Melesat, Target Gubernur Pramono 100% Layanan 2029 Kian Nyata

2 Februari 2026
Ragam

Agus Santoso Tegaskan ZIS Alumni UNPAD Jadi Kekuatan Ekonomi Umat

1 Februari 2026
Ragam

Groundbreaking Pembangunan Rumah Tahfiz Sugiat Santoso, TGB: Untuk Bangun Peradaban

1 Februari 2026
News

Reses DPRD Kabupaten Sukabumi 2026

1 Februari 2026
News

Sambut HPN 2026, PWI Tangsel Gelar Senam Sehat Bersama Masyarakat

1 Februari 2026
Ragam

BNNP Jateng Hadiri dan Apresiasi Rakornas Ke-1 PWI–Laskar Sabilillah, Dorong Peran Ormas Jaga Generasi Muda dari Narkoba

1 Februari 2026
Next Post

DPRD Kabupaten Sukabumi Mengucapkan Selamat Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (27 Rajab 1447 Hijriyah)

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021