Lalu Mi’raj, adalah Naik Bukan untuk Lari, Tapi untuk Kuat Kembali. Mi’raj bukan eskapisme spiritual. Nabi tidak ‘kabur’ dari realitas, tapi beliau dikuatkan untuk kembali. Apa yang Rasulullah dapatkan, ternyata tidak ada perintah kekuasaan, tidak ada janji harta, tidak ada balasan dunia. Yang diberikan adalah perintah Salat, hadiah berupa ritual sunyi dan bernilai, dialog intim, serta energi batin. Seolah Allah berkata: ‘Jika engkau ingin tetap tegak di dunia yang keras, engkau harus kuat di dalam’.
Salat sebagai Pilar
Hadiah utama Isra Mi’raj bukanlah mandat kekuasaan, strategi politik, atau legitimasi sosial. Yang dibawa Nabi kembali ke bumi adalah Salat. Salat lahir bukan di istana, bukan di masa kejayaan,
tetapi di puncak kesedihan. Karenanya Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan tempat kembali bagi yang Lelah, menjadi ruang aman bagi yang terluka, dan cara langit memeluk manusia yang hampir runtuh. Ketika beban hidup semakin semakin berat, maka semakin penting hubungan vertikal kita dengan Tuhan.
Salat juga menjadi pesan yang sangat simbolik. Salat adalah mekanisme pembentukan karakter, disiplin moral, dan pengelolaan diri. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45). Dalam perspektif manajemen modern, salat adalah bentuk manajemen nilai dan manajemen kesadaran. Salat melatih kepemimpinan diri, kejernihan batin, dan konsistensi moral. Tanpa kepemimpinan diri, kepemimpinan sosial akan rapuh. Tanpa nilai, maka sistem akan kehilangan ruh.
Tentu Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang unggul secara ekonomi, tetapi bangsa yang teguh secara moral. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa peradaban besar selalu dibangun dari manusia-manusia yang memiliki hubungan jujur dengan Tuhan dan Nurani serta nilai.










