“Arahan Bupati pada tahun lalu sangat jelas, bagaimana petani bisa tetap panen di lahan yang kering. Kami mencoba metode ini dengan menggali tanah sedalam 50 cm dan memasang lembaran plastik UV yang dapat bertahan 8 sampai 10 tahun di dalam tanah. Lembaran plastik ini membantu menyimpan air dan pupuk lebih baik sehingga tidak terbuang,” jelas Isnanto.
Keberhasilan ini terbukti sejak penanaman pertama pada 29 Januari 2024, di mana sawah kering ini telah berhasil panen sebanyak dua kali, meskipun musim hujan tidak menentu. Metode pertanian hemat air ini tidak hanya terbukti efektif, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mewujudkan IP 400, yang memungkinkan panen empat kali dalam setahun.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, dengan penuh semangat menyatakan bahwa, keberhasilan ini akan menjadi langkah awal untuk memperluas demplot sawah hemat air di seluruh wilayah.










