Lebih dari itu, periset dituntut memiliki karakter ulil albab, yaitu pribadi yang mampu memadukan dzikir dan fikir, sains dan spiritualitas, serta ilmu dan amal dalam setiap karya penelitiannya.
Kepala BRIN, Dr Laksana Tri Handoko dalam sambutannya menekankan bahwa, periset berkarakter ulil albab akan senantiasa menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber inspirasi dan petunjuk dalam kegiatan riset dan inovasi. Mereka akan memandang fenomena alam dan sosial dengan kacamata tauhid, serta berupaya mengungkap keteraturan dan keagungan ciptaan Allah melalui metode ilmiah.
“Riset yang mereka lakukan bukan semata untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan kemaslahatan bagi sesama,” tandasnya.











