“Manuskrip-manuskrip kuno menyimpan rekaman relasi manusia dengan alam yang dibingkai kesadaran keagamaan. Namun dalam ruang digital yang serba instan, collective memory dan local wisdom itu hampir tidak tersentuh,” jelas Prof Deni.
Fenomena ini menjadi tantangan bagi Studi Agama-Agama (SAA) yang saat ini berkembang di 22 Prodi di berbagai PT di Indonesia. Selama ini respon terhadap tantangan keilmuan SAA masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal ASAI telah berdiri sebagai wadah jejaring nasional.
“Simposium ini didesain untuk merumuskan model, manajemen, dan pola pengembangan kajian SAA, khususnya terkait diseminasi kesadaran empatik dan compassion dalam menjelaskan fenomena keagamaan secara ontologis,” tambahnya.
11 Sub-Tema: Dari Ekoteologi hingga Kebencanaan
Selama 3 hari, peserta akan mendiskusikan 11 sub-tema, antara lain:













