’’Kecurigaan demi kecurigaan tertuju pada Prodi ini. Stigmaisasi dan ketidaksukaan pada filsafat, serta kecurigaan terhadapnya pada dasarnya karena ketidakpahaman terhadap filsafat itu sendiri. Dan juga di dalam sejarah peradabaan Islam kecurigaan hingga penolakan dimulai dari perdebatan sengit Imam Al-Ghazali yang mengkritik pandangan para filosof dengan menulis karya Tahafut al-Falasifah dan jawaban keras dari Ibn Rushd dalam karyanya Tahafut al-Tahafut,’’ ujar Kholid,dilansir dari JP Metropolitan
Sejak itu filsafat menjadi sangat dicurigai pada sebagian wilayah muslim terutama wilayah muslim Sunni yang umumnya di dominasi oleh pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali, menyebabkan perkembangan Filsafat hanya terjadi di Andalusia yang kemudian menjadi cikal bakal perkembangan Filsafat Barat abad pertengahan dan di wilayah-wilayah muslim Syiah yang umumnya pola berpikir spekulatif masih sangat diterima.
Tapi secara umum dalam peradaban Islam kehadiran filsafat meredup dan dunia Islam memasuki era kemunduran dalam sains dan teknologi. Mengingat, kata dia, para saintis juga merupakan para filosof. Keadaan ini berbeda dengan apa yang terjadi di barat, karena filsafat mengalami perkembangan efeknya sains dan teknologi menggeliat dan terus berkembang hingga saat ini sehingga mengantarkan barat menjadi kiblat sains dan teknologi sekalipun tak lepas dari kritik karena watak epistemologisnya yang positivistik dan materialistik sehingga menolak hal-hal metafisik hingga agama.













