Algooth Putranto yang pertama kali tampil, menyajikan makalah, “Pers Kampus Masihkah Menyalak”. Sementara, Trisna Prandawa Putra memampangkan pers kampus Binus.
Terakhir, Geofakta Radjali mempresentasikan “Pandemic Campus Journalism, and Social Media Press Disruption”.
Diskusi membahas perihnya kehidupan pers kampus (persma) dewasa ini, baik sebelum dan di masa pandemi Covid-19. Para pemateri sependapat, persma seharusnya menjadi pilar media demokrasi. Kemajuan teknologi, yang mengakibatkan disrupsi digital, ditingkahi melesatnya media sosial, menjadikan persma semakin “megap-megap”.
Kehidupan persma, secara umum, dapat diidentikan dengan pers pada umumnya, konvensional dan main-stream (arus utama).

Serupa dengan pelaku pers pada umumnya, pengelola persma juga harus bijak menyikapi perubahan besar yang sudah dan akan terus terjadi, khususnya bagaimana menanggapi media sosial.













