Di hadapan para arsitek, Farhan menyebut, pembangunan kota hijau dan ramah lingkungan bukan sekadar jargon. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada kepatuhan tata kelola.
“Visi apa pun tak akan berhasil tanpa kepatuhan. Saya belajar dari Lee Kuan Yew: kunci sukses Singapura adalah compliance, dimulai dari pemimpinnya sendiri,” ungkapnya.
Ia juga memaparkan kelanjutan dua program unggulan kota, yaitu Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) untuk pengelolaan sampah dan Buruan Sae (Urban Farming) yang terbukti membantu kestabilan harga cabai dan bawang merah sebagai komoditas inflasi psikologis.
Sebagai penutup, Farhan menuturkan, Bandung harus menjadi “laboratorium desain kota” yang memadukan kreativitas, sejarah, dan tata kelola yang konsisten.













