Sehingga generasi muda bisa memberikan warna baru maupun penyegaran di birokrasi serta perpolitikan nasional.
“Langkah yang kita lakukan adalah memberikan kesadaran kepada anak muda bila politik itu penting, bahwa politik itu mengurus nasib banyak orang,” cetusnya.
Namun begitu, dirinya tak menampik sejumlah anak muda telah menunjukkan eksistensinya di kancah politik nasional, seperti beberapa staf khusus presiden yang usianya masih dibawah 35 tahun.
Termasuk pula Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang usianya masih berkisar 30 tahunan.
“Namun itu sifatnya baru untuk jabatan selected atau dipilih. Kalau untuk yang elected, saya melihatnya belum terlalu banyak. Bahkan, kami melihat pada Pilkada 2020, isu yang keluar adalah politik dinasti atau kekerabatan, disamping hal-hal strategis lainnya,“ jelas Fahmi.












