“Kita ingin membawa tafsir spiritual ini ke dua ruang. Kelas dan masyarakat.”
LUKA SOSIAL, PELUANG SPIRITUAL
Spiritualitas, bagi Denny, tak boleh berhenti di langit ide. Ia harus menjejak tanah konflik, luka, dan realitas sosial.
Ia mengingatkan data riset LSI (1998–2001) yang mencatat lima tragedi besar akibat politik identitas dan agama:
Konflik Islam–Kristen di Ambon (1999–2001)
Kerusuhan etnik dan agama di Jakarta (Mei 1998)
Konflik Dayak–Madura di Kalimantan Tengah (2001)
Ketegangan etnik di Lampung antara pendatang Bali dan warga lokal (2001–2002)
Konflik antar paham Islam di Mataram, NTB (2000an).
“Luka-luka itu belum benar-benar sembuh,” ujarnya lirih. “Tapi di tengah luka, selalu ada celah untuk cahaya.”
Dan di situlah spiritualitas baru harus bekerja—bukan untuk menggantikan iman lama. Melainkan untuk menyalakan kembali esensinya yang universal: kasih, pengertian, dan keadilan.












