“Di tanah air, sosok-sosok tokoh seperti para pendiri bangsa dan pahlawan kemerdekaan adalah para perisai bagi bangsa, tameng bagi Nusantara. Mereka berjuang demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa dari kolonialisme bangsa lain. Mereka berjuang demi melindungi hak-hak kemerdekaan rakyatnya.
Bagi kami, para pemimpin adalah perisai, atas bangsa yang dipimpinnya. Tameng untuk melindungi bangsa dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi kami, sebagai “perisai”, seorang pemimpin harus kuat (strong leader) menghadapi lawan, namun ia harus merangkul semua kekuatan dalam menghadapi ancaman. “Softly Inside, Strongly Outside”,” kata Ahmad Kailani berapi-api.
Pada bagian lain, berdirinya PS Nusantara juga didasarkan pada kekhawatiran menguatnya kembali polarisasi aliansi Timur vs Barat yang berdampak pada ancaman militer. Aliansi Rusia-Tiongkok dan sekutunya vis a vis AS-Uni Eropa plus sekutunya seperti Jepang dan Korea Selatan, dikhawatirkan akan terus memanas. Hal ini berpotensi mengancaman kawasan Asia Tenggara dan tentu saja Indonesia. Mengapa? Karena anggota ASEAN juga terbelah dua saat mensikapi perang Rusia-Ukraina.
PS Nusantara juga menyinggung tentang ancaman perubahan iklim global yang terjadi karena aktivitas manusia seperti polusi udara dan kerusakan alam, telah membawa dampak ke berbagai sektor, terutama sektor ekonomi dan sektor kesehatan. Indonesia, seperti telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada Convention of Parties (COP) 26 di Glasgow, 2021, berkomitmen untuk menjadi salah satu pemimpin dunia dalam upaya pencegahan perubahan iklim, melalui penghentian perusakan alam dan transisi energi menuju penggunaan energi bersih. Sebuah agenda besar yang memerlukan konsep yang matang dan kepemimpinan yang kuat, karena akan berhadapan dengan berbagai kepentingan ekonomi jangka pendek yang masih sangat dominan.













