“Mari kita hentikan perambahan hutan, jangan lagi ada lahan kritis. Apabila terjadi hujan tanah di lahan kritis satu tahun tergerus 12 ton, apakah kita akan mewariskan pada anak cucu kita lahan kritis, nanti mereka bertanya ‘dimana hutan kita ?,” ujarnya.
Choirul mengungkapkan, pendekatan yang dilakukan sampai saat ini adalah pendekatan dari hati ke hati, agar warga selain menanam sayuran juga merawat kopinya.
“Apabila ada tanaman kopi yang mati, harus cepat diganti, jangan sampai bapak semua merawat sayuran tapi kopi tidak dirawat,” tuturnya.
Ia juga menegaskan, apabila warga tidak patuh dengan himbauan, maka warga tidak akan bisa kembali menanam dengan pola tumpang sari di lahan perhutani.
“Saya akan lepas tangan, satgas akan terus menanam pohon di lahan kritis, karena tujuan kami adalah menghijaukan kembali Gunung Wayang,” ucapnya.










