“Organik juga bisa oleh maggot, sisanya yang tidak termanfaatkan bisa kita proses dengan Wisanggeni,” tambahnya.
Wisanggeni, menurut Dani sebagai alat untuk membakar sampah yang pemicunya oli bekas dan air. Setelah dipanaskan, kompor akan mengeluarkan api bertekanan tinggi yang digunakan untuk membakar sampah.
Kapasitas sampah yang bisa diproses Wisanggeni sekitar 1 ton per hari dengan 8 jam kerja. Namun harus terus diisi oleh sampah sehingga suhunya konsisten diatas 750 derajat.
“Setelah terbentuk api sempurna di dalam tabung, pemicunya akan ditarik, sehingga menjadi sampah membakar sampah. Setelah itu hanya memerlukan energi listrik yang menggerakkan dinamo untuk filterisasi asap,” ucapnya.
“Asap yang keluar juga insyaallah sudah dites oleh Sucofindo bahwa itu masih di bawah ambang batas. Hasil dari pembakaran jika masih besar bisa dibakar ulang, kalau abunya bisa juga dicampur sebagai media tanam, tapi kita belum cek secara lab,” imbuhnya. (Ricard)











