Dalam diskusi tersebut, disampaikan beberapa tantangan dalam pengembangan EBT di daerah khususnya perbatasan NKRI. Pertama, investasi teknologi yang cukup mahal ditambah biaya pemeliharaan yang juga tidak sedikit. Kedua, kesiapan industri dalam negeri melalui pemanfaatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ketiga, keseimbangan supply dan pertumbuhan demand dengan harga terjangkau. Terakhir, kemudahan perizinan dan penyiapan lahan serta debottlenecking dalam pelaksanaan proyek EBT.
Di samping itu, terdapat faktor penting lainnya dalam pengembangan EBT, diantaranya dana EBT, sharing jaringan melalui sistem power wheeling, harga dan insentif EBT hingga harmonisasi perizinan.
Iskandar, Pakar Terang Hijau, mengungkapkan peluang investasi untuk industri EBT sangat menjanjikan kedepannya ditambah arah kebijakan energi nasional saat ini adalah melaksanakan transisi energi, yaitu dari energi fosil menuju energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan, terutama melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). “Masih diperlukan usaha yang lebih intensif untuk menurunkan emisi karbon hingga 29 di tahun 2030 dan net zero emission di 2060,” ungkapnya.











