Kehadiran Brigjen Pardosi di Para-Para Adat menjadi pesan kuat: bahwa TNI bukan hanya penjaga batas dan laut, tetapi juga penjaga hati dan rasa. Bahwa kedekatan tidak selalu dibangun lewat protokol, tapi bisa tumbuh lewat duduk bersama, makan sagu dan menyatu dalam tradisi.
“Saya datang ke sini bukan membawa perintah, tapi membawa penghormatan. Kami TNI, lahir dari rakyat dan kembali kepada rakyat. Dan Papua adalah saudara kami, bagian utuh dari Indonesia yang penuh cinta,” ungkap Brigjen Pardosi dengan mata teduh.
Dalam suasana yang sarat makna, dialog hangat, tawa ringan dan pesan-pesan kebangsaan mengalir alami. Sagu Bakar pun menjadi pengikat, bukan hanya perut, tapi hati. Di tanah yang indah ini, diplomasi tidak hanya bicara kepentingan negara, tetapi juga rasa saling percaya, saling hormat, dan tekad menjaga Papua tetap damai dan bermartabat.











