Nilai-nilai ini ditegaskan dalam dalil agama. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10) menekankan dimensi sosial iman. Sementara hadis, “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit” (HR. Bukhari-Muslim), menekankan dimensi konsistensi.
Secara spiritual, Nisfu Sya’ban mengajarkan bahwa iman bukan ledakan sesaat, tetapi proses bertahap. Ibarat menyalakan lampu di ruangan gelap, hati perlu dibersihkan dari dendam, kesombongan, dan kelalaian. Dari situ lahir ketenangan. Jadi, nilai terdalam Nisfu Sya’ban adalah transformasi batin: dari lalai menjadi sadar, dari egois menjadi peduli, dari rutinitas menjadi makna.
Ketiga: Pesan manajemen edukasi apa yang bisa disampaikan dari Nisfu Sya’ban? Dari perspektif manajemen pendidikan, Nisfu Sya’ban mengajarkan prinsip perencanaan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Ia serupa siklus manajemen Pendidikan: refleksi (check), perbaikan niat (plan), praktik ibadah (do), lalu evaluasi ulang (act). Pola ini relevan bagi pendidik, siswa, dan pemimpin lembaga.











