Dalam kerangka ini, Nisfu Sya’ban menjadi semacam audit ruhani tahunan. Kita menilai ulang ibadah, relasi sosial, dan arah hidup. Tanpa momen jeda seperti ini, Ramadan berisiko dijalani secara otomatis, bukan sadar. Karena itu, pentingnya Nisfu Sya’ban terletak pada fungsinya sebagai alarm spiritual membangunkan hati sebelum memasuki bulan latihan besar. Ia bukan malam magis, melainkan momen strategis untuk perubahan diri.
Kedua: Nilai spiritual apa yang bisa digali dari Nisfu Sya’ban? Ada tiga nilai utama: muhasabah, rekonsiliasi, dan pembiasaan ibadah. Muhasabah menuntun kita menilai diri dengan jujur—apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disyukuri. Rekonsiliasi mendorong perbaikan hubungan sosial lewat silaturahmi dan saling memaafkan. Pembiasaan ibadah melatih konsistensi melalui qiyamul lail, tilawah, istighfar, dan puasa sunnah.











