Ada celah (gap) antara ritual dan refleksi. Karena itu, tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan: urgensi Nisfu Sya’ban, nilai spiritualnya, serta pesan manajemen edukasi yang dapat dipetik:
Pertama: Mengapa Nisfu Sya’ban begitu penting bagi umat Islam? Nisfu Sya’ban penting karena ia berfungsi sebagai “ruang antara”: jembatan dari rutinitas biasa menuju Ramadan yang intens. Banyak riwayat menyebut malam ini sebagai momen ampunan dan pengangkatan catatan amal, sehingga umat terdorong melakukan evaluasi diri. Nilai urgensinya bukan pada kemeriahan ritual, melainkan kesadaran reflektif.
Al-Qur’an mengajarkan sikap antisipatif terhadap masa depan spiritual: “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Rasulullah ﷺ pun menegaskan pentingnya niat: “Sesungguhnya amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari-Muslim). Artinya, sebelum memperbanyak amal, hati harus dibenahi.











