Dalam narasi One Piece, bajak laut bukan hanya perampok laut. Mereka adalah simbol perlawanan terhadap sistem dunia yang korup, penindasan terhadap rakyat kecil, dan impian atas kebebasan sejati. Karakter utamanya, Luffy, dikenal sebagai pemimpin yang membela mereka yang tertindas, melawan pemerintah yang semena-mena, dan menolak tunduk pada kekuasaan yang korup.
Di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda, One Piece bukan sekadar hiburan. Ia menjadi ruang pelarian sekaligus artikulasi nilai-nilai keadilan alternatif. Ketika bendera bajak laut dikibarkan bersamaan dengan Merah Putih, itu bisa dibaca sebagai pernyataan simbolik: bahwa makna kemerdekaan versi negara belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat di bawah.
Antonio Gramsci (1971) menyebut bahwa kekuasaan tidak hanya dijaga dengan hukum dan aparat, tetapi juga lewat simbol-simbol budaya. Dalam istilahnya, “hegemoni budaya” adalah cara halus negara mempertahankan kontrol atas kesadaran rakyat. Namun ketika rakyat mengibarkan simbol tandingan—seperti bendera bajak laut—itu bisa dipahami sebagai bentuk resistensi terhadap narasi dominan tentang nasionalisme dan kemerdekaan.












