Pola pikir yang sama dengan mengeksploitasi, tidak peduli, dan hanya mementingkan kepentingan jangka pendek juga terjadi dalam relasi sosial. Manusia menjadi objek, bukan subjek yang dihormati. Nilai-nilai luhur kearifan lokal yang mengajarkan untuk menjaga dan merawat, perlahan tergusur oleh logika pasar dan kapitalisme.
Menata Ruang Publik yang Memanusiakan
Rasa aman sejati di ruang publik tidak hanya dibangun oleh banyaknya aparat keamanan, tetapi juga oleh desain fisik ruang itu sendiri. Desain dan tatanan fisik yang baik akan menciptakan citra ruang publik yang mendukung rasa aman para penggunanya.
Sayangnya, banyak ruang publik di Bandung yang dirancang tanpa mempertimbangkan aspek keamanan ini. Jalur pedestrian yang rusak, minimnya rambu transportasi, dan area yang gelap menjadi tempat subur bagi kejahatan. Namun, ada secercah harapan. Konsep placemaking atau penciptaan tempat mulai diterapkan. Contohnya adalah revitalisasi Taman RW 07 Kopo oleh komunitas Lakuna Kota ITB dan WRI Indonesia. Taman kecil di tengah permukiman padat ini diubah menjadi ruang publik yang ramah anak dengan zona bermain, pojok literasi, dan tempat duduk fleksibel. Proses pembuatannya pun melibatkan partisipasi aktif masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua.













