Bila keadaan terus begitu, Respati merasa kuatir kalau bahasa Indung/Sunda akan hilang secara perlahan-lahan. Setelah itu, lanjutnya, apakah pantas warga Kabupaten Bandung dan sekitarnya disebut Masyarakat Sunda, yang secara tak langsung telah menghilangkan salah satu instrumen penting dalam kesenjangan sebagai penyambung tali silaturahmi.
“Kita tidak bisa menghalangi kehendak mereka untuk beradaptasi dengan bahasa nasional kita, yaitu Bahasa Indonesia. Tapi jangan lupa kalau beda bahasa, beda suku, beda budaya, itu merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai,” ujarnya.
Untuk itu jadilah masyarakat Sunda yang sebenarnya dengan terus berbahasa Indung tanpa melupakan Bahasa Nasional/Indonesia sebagai pengantar persatuan dan kesatuan bangsa.***













