Kedua, menghidupkan spirit ta’awun. Kurikulum Cinta mendorong lahirnya empati lintas identitas. Ketika bencana datang, pertolongan tidak mengenal suku, agama, atau kelas sosial. Inilah pendidikan moderasi beragama dalam bentuk paling konkret: kemanusiaan didahulukan, sekat ideologis dilebur oleh empati.
Ketiga, muhasabah kolektif. Bencana seharusnya mendorong sekolah, kampus, dan lembaga keagamaan bertanya jujur: sudahkah kita mendidik manusia ramah lingkungan, atau justru melahirkan generasi konsumtif? Di sinilah Kurikulum Cinta diuji. Apakah ia hanya dokumen kebijakan, atau menjadi jiwa dari seluruh ekosistem pendidikan?
“Bangsa ini tak kekurangan kebijakan, tetapi sering kekurangan keteladanan. Pendidikan lingkungan tidak cukup di papan tulis; ia harus hidup dalam budaya sekolah, kampus, dan keluarga. Jika anak didik menyaksikan guru, orang tua, dan pemimpinnya memperlakukan alam dengan hormat, maka cinta pada lingkungan akan tumbuh secara alami.” katanya.










