Dikatakan bahwa masalahnya, sejauh ini pendidikan lingkungan masih sering bersifat kosmetik: lomba kebersihan, slogan hijau, atau program tanam pohon sesaat. Yang absen adalah internalisasi nilai. Anak didik diajak menyanyikan lagu tentang alam, tetapi di saat bersamaan mereka melihat sampah menumpuk tanpa sistem pengelolaan yang adil. Mereka diminta mencintai lingkungan, tetapi tak pernah diajak merenungkan bahwa banjir bisa menjadi akibat langsung dari gaya hidup manusia.
Lebih jauh ia memparkan Bencana yang silih berganti semestinya mengajarkan tiga hal mendasar: Pertama, menjaga lingkungan adalah ibadah sosial. Pendidikan harus melatih sejak dini kecintaan pada alam dengan praktik nyata: memilah sampah, konservasi air, bank sampah berbasis madrasah, dan kurikulum yang menjadikan alam sebagai “kelas besar”. Di sinilah pilar cinta lingkungan menjadi praksis, bukan sekadar teks.










