Menurutnya, Dalam perspektif keislaman, bencana bukan semata kutukan, tetapi peringatan agar manusia berhenti bersikap pongah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat perbuatan tangan manusia sendiri. Di sini, dosa ekologis dan dosa sosial bertemu. Ketika hutan ditebang tanpa nurani, sungai dijadikan tempat sampah, dan tanah diperas tanpa batas, saat itulah manusia mengkhianati amanah sebagai khalifah.
“Spirit Kurikulum Cinta sebenarnya telah meletakkan fondasi yang tepat: cinta kepada Tuhan, sesama, ilmu, lingkungan, dan bangsa. Lima pilar ini bukan berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan. Cinta kepada Tuhan melahirkan kesadaran bahwa alam adalah amanah Ilahi. Cinta kepada ilmu melatih nalar kritis agar manusia memahami daya dukung lingkungan. Cinta kepada bangsa menuntut tanggung jawab agar generasi mendatang tidak mewarisi bumi yang rusak.”terangnya.










