Mengenai masalah banjir yang sering terjadi di banyak wilayah di negeri ini, terlihat sepertinya negara kurang/tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya. Mereka sibuk memperkaya diri sendiri, dan menyerahkan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) kepada swasta maupun asing. Ketika pengeloaannya diserahkan kepada swasta, tentu mereka hanya mengambil untungnya saja. Sementara rakyatlah yang akan merasakan dampaknya. Inilah akibat liberalisasi/kebebasan penguasaan lahan. Lingkungan rusak karena alih fungsi lahan. Tanah pegunungan yang awalnya berfungsi untuk penyerapan air, kini beralih menjadi lahan wisata maupun perumahan. Sehingga ketika hujan terjadi dengan intensitas tinggi, maka air tersebut akan mengalir ke wilayah yang lebih rendah.
Makin tampak di pelupuk mata, bahwa akibat dari kekurangpedulian, bahkan penelantaran terhadap setiap musibah yang terjadi ini dikarenakan negeri ini masih menganut aturan kapitalisme sekuler. Dimana pada aturan ini, menjamin berbagai kebebasan, termasuk kebebasan kepemilikan. Mereka bebas memiliki apa saja yang diinginkannya. Dalam hal ini keinginan untuk memiliki dan menguasai lahan, tanpa memikirkan apakah mengandung kemudharatan ataukah tidak. Mereka hanya mengedepankan hawa nafsunya saja. Sementara aturan agama tidak dibawa dalam kehidupan umumnya. Agama hanya dibawa ketika ibadah mahdah (shalat, zakat, puasa dan lain-lain). Itulah aturan Sekularisme. Padahal Allah Swt. sudah mengingatkan dalam Firman-Nya yang artinya :













