Bandung, BEDAnews
Menanggapi usulan-usulan anggota DPRD Jabar untuk membentuk Bank Daerah Baru, dan implikasinya terhadap Bank Jabar, anggota fraksi Partai Gerindra DPRD Jabar, Daddy Rohanady menyatakan Pembentukkan Bank Daerah baru itu pasti ada implikasinya terhadap Bank Jabar.
“Bagaimanapun kita tidak bisa dilepaskan. Bank Jabar jadi besar karena pada awalnya saham yang ditanam oleh Pemprov 50 persen bahkan lebih, pada awalnya. Dan sah-sah saja kalau kita menarik sebagian sahamnya kita pindahkan sebagian sahamnya ke lembaga baru ini,” tegas anggota komisi E DPRD Jabar ini ketika ditemui Bedanews.com usai rapat pansus II yang tengah membahas perubahan badan hukum PDAP menjadi PT. di loby Paripurna DPRD Jabar, Jum’at (21/9).
Hal ini terkait dalam merespon ketidak-berpihakkan Bank Jabar terhadap rakyat Jawa Barat terutama dikaitkan dengan semangat DPRD Jabar yang telah menggelontorkan anggaran hingga Rp. 200 milliar untuk Kredit Cinta Rakyat (KCR) tetapi hanya tersalurkan 5 persennya saja dalam tempo sekian waktu oleh Bank Jabar.
Lebih jauh diungkapkan Daddy, sejauhmana keberpihakan Bank Jabar terhadap rakyat Jabar, rakyat yang bisa diartikan secara luas, “tapi rakyat yang kita maksudkan adalah rakyat dari golongan kemampuan ekonomi di bawah, yang sebenarnya batasan pinjaman dan lain sebagainya pun ada di bawah bukan dilevel menengah, karena level menengah paling presentasenya berapalah, kita mencoba menyasar di level bawah saya rasa begitu,” katanya.
Kalau Bank Jabar menerapkan prinsip-prinsip perbankan secara utuh, murni untuk diterapkan begitu saja, ini tetap tidak mungkin kesampaian, karena kalau kita mau pinjam ke Bank harus ada collateral, agunan, kalau ini diterapkan tidak sejalan spiritnya dengan spirit teman-teman mendorong hingga Rp. 200 miliiar untuk alokasi KCR yang sebenarnya kita gulirkan dengan kondisi, bunga ditekan di bawah bunga bank, tanpa agunan, yang pada prinsipnya untuk mempermudah masyarakat. (hermanto)












