Bandung, BEDAnews
Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, menyebabkan kekeringan dimana-mana, akibatnya debit air di sejumlah daerah mengalami penurunan cukup drastis. Tak kecuali Situ Lembang, sebagai mata air pemasok untuk PDAM Tirta Raharja mengalami penurunan debit air sampai 60 persen (kapasitas 60 liter per detik).
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PDAM Tirta Raharja, Kabupaten Bandung, Selasa, (11/9) melakukan solat Istisqo (shalat minta hujan-red), yang bertemapat di halaman kantor setempat.
Menurut Kabag Humas dan Hukum PDAM Tirta Raharja, H. Dadang upriyadi, acara di gelar sebagai salah upaya perusahaan mencari solusi akibat krisis air yang terus mengalami penurunan dengan jalan melakukan sholat istisqo.
“Inisiatif untuk melakukan sholat istisqo merupakan keputusan perusahaan melaui devisi keagamaan, dengan diikuti semua personil manajemen perusahaan, tokoh masyarakat setempat dan para anak yatim piatu,” ujarnya.
Dijelaskan Dadang, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya solusi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat pelanggan terkait krisis air yang berkepanjangan yaitu penyediaan air melalui droping kendaraan tangki, pembuatan sumur dalam (pompa air) berkapasitas 7,8 liter dan pendistribusian air secara bergilir untuk wilayah Barat, Selatan dan timur.
“Secara teknis telah kami tempuh agar pelayan tetap berjalan, tapi, kalau kondisi debit air terus mengalami penurunan, maka salah satu upaya terakhir diluar teknis yaitu kita berdoa kepada Alloh Swt melalui salat istisqo, smoga Dia menurunkan Rahmat dan Karunia-Nya berupa turun hujan,“ harap Dadang.
Dalam distribusi air sambung Dadang, tiap wilayah hanya akan diberi jatah 2 hari sekali, dimaksudkan agar penyalurannya merata dan adil,“ kita gilirkan saja secara merata 2 kali sehari untuk wilayah tertentu, sekali dapat jatah air selam 24 jam,“ tandasnya.
Sementara untuk droping air melalui tangki, pihaknya bekerja sama dengan pihak luar dalam penyediaan kendaraan. “Droping tangki bisa sampai 100 kendaraan, silahkan kepada masyarakt yang membutuhkan tidak dipungut biaya alias gratis, asal menyediakan kendaraannya, untuk penanggulangannya bisa langsung ke cabang.” Paparnya.
Diakui dadang, setiap terjadi krisis air akibat kemarau panjang pihaknya mengalami kerugian sampai miliaran rupiah” setiap kerugian selalu berbanding lurus, tahun ini memang bisa dikatakan parah, tapi, yang paling parah terjadi tahun 2006, sampi tak ada pengelolaan air, dengan kerugian 2 miliar lebih, “ urai dadang.
Dadangpun meminta kepad staffnya, untuk selalu melayani semua pengaduan dari masyarakt terkait krisis air. “Saya minta kepada staf untuk mengagkat telephon dan member penjelasan dan pemahaman apabila ada keluhan pelanggan,“ katanya. (Hargib)












