KEDIRI || Bedanews.com – Danrem 081/DSJ, Kolonel Inf Erwin Agung menegaskan bahwa, sinergi antara TNI dan ulama memiliki peran penting dalam menjaga persatuan, serta merawat keberagaman di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia kaya akan beragam suku, agama, budaya dan adat istiadat. Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama agar senantiasa menjadi kekuatan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan.
“Bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang majemuk, kaya akan keberagaman. Tentunya, kami TNI dan para ulama mempunyai tujuan yang sama, yakni bagaiamana untuk merawat keberagaman yang ada,” kata Pamen TNI AD tersebut usai mendampingi Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Piek Budyakto bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kota Kediri, Rabu (4/11/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa, menjaga keberagaman dan keutuhan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh komponen bangsa.
Untuk itu, menurutnya, diperlukan kebersamaan, kepedulian, serta sinergi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat. Termasuk di dalamnya peran ulama dan tokoh agama yang memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kerukunan dan persaudaraan.
Danrem menilai, ulama memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, serta mengajak masyarakat untuk senantiasa mengedepankan semangat persatuan di tengah berbagai perbedaan.
Di sisi lain, sebut dia, TNI juga akan terus memperkuat komunikasi, silaturahmi dan kemanunggalan dengan seluruh elemen masyarakat. Hal itu merupakan bagian dari komitmen TNI untuk senantiasa hadir di tengah masyarakat, sekaligus menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.
Ia pun berharap, sinergi antara TNI, ulama, dan seluruh komponen bangsa dapat terus terpelihara dan ditingkatkan, sehingga keberagaman yang ada tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi mampu menjadi kekuatan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Red).













