YOGYAKARTA || Bedanews.com – Malam di Candi Borobudur, Sabtu, 31 Oktober 2026, tak seperti biasanya. Hawa dingin merayap perlahan saat jarum jam menyentuh pukul 20.00 WIB. Di balik megahnya batu-batu relief kuno yang temaram disorot lampu panggung, gema vokal tenor Andrea Bocelli membumbung tinggi ke langit Magelang. Beribu pasang mata terpana, larut dalam alunan nada yang seolah memeluk ketenangan malam.
Namun, kedamaian malam itu dibangun di atas dinamika yang hangat sejak pagi hari.
Sejak matahari terbit hingga senja membayang, kawasan luar candi sempat diwarnai riak aksi penyampaian pendapat. Ratusan warga dengan bendera tertentu menyuarakan aspirasi mereka di bawah terik matahari. Namun, saat malam jatuh, gemuruh demo berganti menjadi keheningan yang syahdu dan hangat.
Di antara kerumunan tamu dan warga yang menyaksikan suasana dari kejauhan, Muhammad Rofik Mualimin tampak berdiri anggun. Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul, Yogyakarta, yang juga bertindak sebagai Koordinator yang mewakili Alim Ulama dalam mengawal kondusivitas acara tersebut, membagikan pandangannya dengan tersenyum penuh ketenangan.
“Perbedaan ekspresi itu wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Yang utama adalah bagaimana kita tetap menjaga kedamaian rumah kita bersama,” ujar Rofik saat ditemui di sekitar lokasi. Menurutnya, Borobudur adalah simbol warisan budaya yang membawa pesan perdamaian universal. “Tadi siang saudara-saudara kita menyampaikan aspirasi, dan malam ini musik membawa ketenangan. Keduanya berjalan aman tanpa merusak rasa persaudaraan. Ini bukti kedewasaan warga kita.”
Tak jauh dari sana, Abdullah Affas, Ketua Ikatan Muslim Indonesia (Imusi), juga membagikan kesannya. Ia mengapresiasi bagaimana seluruh pihak mampu menahan diri dan saling menghormati hingga acara puncak berlangsung lancar.
“Kami hadir sejak pagi untuk memastikan suasana kondusif, tapi kami juga berkomitmen tidak ada gesekan sama sekali,” kata Affas sambil menatap panggung utama yang megah. “Musik Bocelli malam ini menjadi penyejuk. Setelah perjuangan aspirasi dari pagi hingga petang, melihat acara berlangsung aman dan penuh kedamaian seperti ini menunjukkan bahwa suara rakyat dan perhelatan dunia bisa berdampingan dengan damai di tanah Jawa.”
Saat Bocelli membawakan lagu penutup, riuk tepuk tangan membahana menembus keheningan Magelang. Keberhasilan konser berskala internasional ini bukan sekadar tentang tata panggung yang memukau atau indahnya lantunan musik klasik, melainkan tentang cerita kesabaran, kebesaran hati, dan keramahan masyarakat setempat yang mampu menjaga rumah mereka tetap kondusif hingga pertunjukan usai. (MRM/Red)













