BANDUNG, Bedanews.com —
Punya HP pintar, tapi kitab digitalnya “bisu”. Inilah ironi yang lama dialami santri penyandang disabilitas netra di pesantren. Ponsel bisa bicara lewat screen reader, tapi file PDF, gambar, dan teks Arab gundul tidak bisa “dibacakan”.
Paradoks ini akhirnya dijebol.Sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Konversi UIN Sunan Gunung Djati Bandung meluncurkan “Aplikasi Hadis Arbain Audio-Digital” di Pesantren Sam’an, Kabupaten Bandung pada Sabtu (8/8/2026).
Dari Keluhan Santri ke Solusi Nyata
Program pengabdian ini berjalan sejak pertengahan Juli 2026. Berangkat dari keresahan: santri netra kesulitan menghafal hadis secara mandiri karena literatur digital tidak aksesibel.”Anak-anak kami mahir pakai HP. Tapi saat buka kitab digital, mentok. Harus nunggu dibacakan ustaz,” ujar pengurus Pesantren Sam’an.













