Jakarta, BEDAnews – Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Henry Yosodiningrat, menyoroti masih maraknya peredaran dan pengendalian bisnis narkotika yang dikendalikan dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Henry saat menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Mahasiswa Cerdas dan Berintegritas Menjaga Indonesia Bebas Narkoba” yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Selasa (23/6/2026).
Dalam paparannya, Henry menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun lapas atau rutan di Indonesia yang benar-benar bersih dari praktik penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
“Saya tantang, tidak ada satu pun lapas atau rutan yang bisa mengklaim dirinya benar-benar bersih dari penyalahgunaan narkoba. Kalau ada yang mengaku bersih, itu bohong,” tegas Henry.
Menurutnya, persoalan narkotika di Indonesia tidak akan pernah tuntas selama pemerintah belum mampu memutus mata rantai peredaran yang dikendalikan dari dalam penjara. Ia menilai lapas dan rutan saat ini justru menjadi lokasi yang dianggap paling aman bagi para bandar untuk mengendalikan jaringan mereka.
Usul Lapas Tanpa Sinyal
Henry menyoroti akses komunikasi sebagai faktor utama yang membuat bisnis narkoba di balik jeruji tetap hidup. Keberadaan telepon seluler, internet, hingga jaringan WiFi memungkinkan narapidana tetap bisa berkomunikasi dengan jaringan di luar penjara.
“Masalahnya sederhana. Selama masih ada handphone dan akses komunikasi, mereka tetap bisa mengendalikan peredaran narkoba. Bahkan ada yang bisa menggunakan laptop dan memasang WiFi,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Henry mengusulkan agar seluruh lapas dan rutan menerapkan sistem penghalang sinyal (blind spot area). Dengan sistem ini, seluruh perangkat komunikasi tidak akan dapat berfungsi di dalam area penjara.
“Kalau lapas dijadikan area tanpa sinyal, mau bawa seratus atau seribu handphone pun tidak akan berguna. Itu jauh lebih efektif untuk memutus komunikasi mereka dengan jaringan di luar,” jelasnya.
Pentingnya Integritas dan Peran Mahasiswa
Selain aspek teknologi, Henry menekankan bahwa integritas aparat adalah kunci. Ia mendesak adanya penguatan pengawasan dan penegakan disiplin yang ketat terhadap oknum yang menyalahgunakan wewenang di lingkungan pemasyarakatan.
Dalam seminar tersebut, Henry juga mengajak kalangan mahasiswa untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan narkoba melalui edukasi, pengawasan sosial, serta penguatan integritas generasi muda.
Ia berharap pemerintah, aparat penegak hukum, dan seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi dalam memperkuat pengawasan di lapas dan rutan sebagai bagian dari strategi nasional untuk memutus mata rantai peredaran narkotika di Indonesia.













