Oleh: Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana, M.Si (Dosen STIK-PTIK)
JAKARTA || Bedanews.com – Pada saat kami sowan Ibu Hoegeng beberapa tahun yang lalu ada satu pesan dari beliau: “titip Polri”. Saya saat itu terkejut dan bingung. Kami tidak memahami apa pesan beliau. Kami akan bertanya tentu tidak etis. Saya spontan berkata: “Siap Ibu”. Dalam hati saya berkata kepada diri saya: “Siapakah aku ini, aku bisa apa?, mendapat pesan begitu berat dan maknanya dalam”. Waktupun berlalu kami beberapa kali melihat film wawancara kami dengan Ibu Hoegeng dan berulang kali merenungkan apa makna pesan Ibu Hoegeng. Kami-pun sering menceriterakan sekilas saat menulis tentang Pak Hoegeng.
Pada saat saya akan mengikuti misa di hari minggu pagi, di gereja St Albertus Agung Jetis, saya seperti terlintas pesan Ibu Hoegeng “Titip Polri”. Dalam do’a dan perenungan saya sebelum misa seakan saya melihat makna pesan tadi. Polri yang Ibu maksud bukan bangunan atau gedung atau jabatan, atau kewenangan melainkan nama baik dan kepercayaan masyarakat kepada Polri. Saya menjadi teringat pepatah jawa yang mengatakan: “Kelangan bondo iku ora kelangan opo-opo, kelangan nyowo iku agi kelangan separo, kelangan kapercayan kelangan sak kabehane”.











