• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Senin, Februari 2, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Bahasa Bumi Dibuka, Pesan Rahasia Peradaban Nusantara Terkuak

Bahasa Bumi Dibuka, Pesan Rahasia Peradaban Nusantara Terkuak

Asep Budi by Asep Budi
15 Januari 2026
in Ragam
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA || Bedanews.com – Tokoh spiritual Indonesia, Sri Eko Sriyanto Galgendu, menyerahkan sebuah karya spiritual bertajuk KITAB MA HA IS MA YA kepada Ketua Umum Forum Pemimpin Redaksi Media Siber Indonesia (Forum Pemred SMSI), Dar Edi Yoga, dalam sebuah pertemuan Rabu malam (14/1/2026).

Kitab tersebut merupakan hasil monolog spiritual yang ditulis selama 20 jam non-stop.dan disebut sebagai salah satu karya spiritual tercepat yang pernah dituliskan dalam perjalanan spiritual dunia modern. Kitab setebal sekitar 300 halaman ukuran A5 itu ditulis menggunakan teknologi digital, berisi do’a, syair dan ayat-ayat yang disebut sebagai Bahasa Bumi (BhaHasa BhuMi).

Sri Eko Sriyanto Galgendu menjelaskan, BhaHasa BhuMi adalah bahasa jiwa, bahasa yang merekam hubungan manusia (Ma Nuh Sa) dengan tanah dan bumi tempat ia dilahirkan dan hidup. Menurutnya, bumi bukan entitas diam, melainkan mencatat perilaku, tanggung jawab dan kesadaran manusia yang berpijak di atasnya.

“Bumi mencatat hidup dan kehidupan manusia. Apa yang ditanam dalam laku, akan kembali dalam makna,” ujar Eko Galgendu.

BeritaTerkait

Oplus_131072

Volume Penumpang Commuter Line Baraya Melonjak Pasca Penyesuaian Layanan dan Pengoperasian Stasiun Gadobangkong

2 Februari 2026

Bio Farma Laksanakan Vaksinasi Tetanus Bagi Relawan serta Korban Bencana Tanah Longsor di Cisarua Bandung Barat

2 Februari 2026

Ia menuturkan, KITAB MA HA IS MA YA merupakan persembahan dari 29 tahun perjalanan pembelajaran tanggung jawab spiritual, serta bagian dari laku panjang yang ia sebut sebagai Puasa Pala, terinspirasi dari Puasa Mahapatih Gajah Mada, yakni puasa untuk tidak menikmati hasil dari apa yang telah diperjuangkan demi masyarakat, bangsa dan negara.

Kitab ini berisi 79 doa spiritual testimoni tentang tanggung jawab hidup manusia, sekaligus menjadi panduan untuk menemukan apa yang disebut sebagai “Ayat Diri,” kesadaran tentang jati diri manusia sebagai makhluk spiritual dan sosial. Menurut Eko Galgendu, mengetahui Ayat Diri adalah buah dari perjalanan hidup itu sendiri.

Dalam konteks peradaban, gagasan penyusunan kitab ini berangkat dari refleksi panjang tentang kepemimpinan, krisis nilai dan masa depan bangsa. Sebuah ungkapan yang disampaikan Muhammad Habib Chirzin pada Mei 2025, “Sudah waktunya seperti Semar Mbabar Kahayangan,” disebut menjadi salah satu penanda lahirnya karya ini.

Secara khusus, KITAB MA HA IS MA YA dipersembahkan sebagai bentuk kehormatan spiritual kepada Alm. Sri Susuhunan Pakubuwana XII dan Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang oleh Eko Galgendu dipandang sebagai figur yang memberikan kepercayaan dan keteladanan hingga batas akhir hayat dan akhirat.

Sementara itu, Dar Edi Yoga menyambut kitab tersebut sebagai karya spiritual yang memiliki resonansi kuat dengan khazanah peradaban Nusantara. Sebagai pengamat spiritual yang selama ini konsen pada kajian Gunung Padang, Dar Edi menilai gagasan Bahasa Bumi selaras dengan pesan-pesan peradaban yang tersimpan di situs megalitik tersebut.

“Gunung Padang mengajarkan bahwa peradaban besar lahir dari kesadaran, tanggung jawab dan hubungan manusia dengan tanahnya. Dalam konteks itu, kitab ini berbicara dalam frekuensi yang sejalan,” kata Dar Edi Yoga.

Ia menambahkan, narasi spiritual yang menghubungkan manusia, bumi, dan tanggung jawab peradaban menjadi sangat relevan di tengah krisis moral dan ekologis global saat ini.

Menurutnya, pembacaan ulang nilai-nilai spiritual Nusantara penting agar manusia modern tidak tercerabut dari akar kesadarannya.

Penyerahan kitab ini tidak sekadar menjadi peristiwa simbolik, melainkan juga membuka ruang dialog tentang spiritualitas, peradaban dan makna kepemimpinan di Indonesia, di tengah zaman yang kian cepat, namun sering kehilangan arah batin. (Red).

Previous Post

Kodaeral X TNI AL Bentuk X Point UMKM Sebagai Wadah Strategis Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Next Post

Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi, Komitmen Tindaklanjuti Arahan Presiden Prabowo

Related Posts

Oplus_131072
Ragam

Volume Penumpang Commuter Line Baraya Melonjak Pasca Penyesuaian Layanan dan Pengoperasian Stasiun Gadobangkong

2 Februari 2026
News

Bio Farma Laksanakan Vaksinasi Tetanus Bagi Relawan serta Korban Bencana Tanah Longsor di Cisarua Bandung Barat

2 Februari 2026
Ragam

Duet Prasetyo, Marullah–Arief di PAM Jaya: Pelayanan Masyarakat Melesat, Target Gubernur Pramono 100% Layanan 2029 Kian Nyata

2 Februari 2026
Ragam

Agus Santoso Tegaskan ZIS Alumni UNPAD Jadi Kekuatan Ekonomi Umat

1 Februari 2026
Ragam

Groundbreaking Pembangunan Rumah Tahfiz Sugiat Santoso, TGB: Untuk Bangun Peradaban

1 Februari 2026
News

Reses DPRD Kabupaten Sukabumi 2026

1 Februari 2026
Next Post

Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi, Komitmen Tindaklanjuti Arahan Presiden Prabowo

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021