Jakarta, Bedanews.com
Akademisi UIN SGD Bandung, Prof.Ahmad Rusdiana menegaskan bahwa bencana alam (musibah) dipenghujung tahun 2025 merupakan bentuk teguran bagi dunia pendidikan dan peradaban. Bencana alam seperti Banjir bandang di Sumatera, Aceh, erupsi Gunung Semeru di Lumajang, serta rangkaian longsor dan banjir di Cilacap–Ciamis datang tanpa jeda panjang. Jalan terputus, rumah terendam, lahan rusak, dan nyawa melayang. Namun, yang lebih memprihatinkan: bencana masih sering diperlakukan sekadar sebagai berita musiman, bukan sebagai teguran serius bagi cara kita mendidik generasi masa depan.
“Di titik inilah Kurikulum Cinta yang diusung Kementerian Agama RI menemukan relevansi paling nyaring. Misi membentuk generasi yang cerdas, humanis, toleran, dan moderat bukanlah jargon normatif. Terutama pilar cinta lingkungan, yang seharusnya menjadi watak, bukan hanya materi hafalan. Jika pendidikan gagal menumbuhkan rasa takzim pada alam, maka ruang kelas sejatinya telah gagal menjalankan mandat kemanusiaannya.” ujar Rusdiana dalam rilisnya kepada media, Selasa, (09/12/2025)










