Cimahi, BEDAnews-
Aktif di organisasi sosial kemasyarakatan membuat Diana Handayani akrab dengan kaum miskin di Kota Cimahi. Baginya, membekali perjuangan kaum miskin dengan usaha kelompok sangat melegakan. “Lega banget sudah memenuhi janji bagi mereka untuk membekali perjuangan mereka dengan usaha kelompok produksi dan koperasinya Alhamdulillah, sekarang tinggal dirawat aja dan dijaga supaya berkesinambungan serta memberikan hasil optimal bagi mereka,” katanya kepada BEDAnews, Rabu (19/6).
Awalnya, alumni Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Kesejahteraan (STKS) Bandung ini aktif di lembaga kajian politik Indonesian Popular Governance Institute (IPGI), namun belakangan dia memasuki lembaga khusus di bawah Nahdlatul Ulama (NU) yakni Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Laspesdam).
Dia berkisah, hijrahnya Diana dari IPGI ke ke Lakpesdam memiliki alasan teknis formal dan idiologis. Secara formal memang hubungan kerja dengan IPGI sudah selesai. Namun, komunitas dampingannya memiliki impian untuk mengelola koperasi dan usaha kelompok untuk keberlanjutan kelembagaan perjuangan mereka. “Secara idiologis, ada dua alasan yang mendorong saya bekerjasama dengan Lakkpesdam NU untuk mengelola PNPM Peduli di Cimahi. Pertama, PNPM Peduli memiliki spirit yang sama untuk memperjuangkan pemenuhan hak-hak dasar kelompok miskin dan marginal. Kedua, PNPM Peduli dikembangkan dengan konsep Community Based Poverty Reduction yang disingkat dengan CBPR, yakni konsep penanggulangan kemiskinan yang secara prinsip berorientasi pada membangun kemandirian dan keberlanjutan dengan bertumpu pada komunitas yang bersangkutan,” ujarnya
Dijelaskannya, komunitas terllibat penuh dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Pola dan model ini sangat sesuai dengan karakteristik kelompok dampingan. Tujuan program ini adalah memperkuat kapasitas Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Indonesia agar mampu mencapai dan memberdayakan kelompok-kelompok terpinggirkan untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi mereka. Ketiga, NU ternyata memiliki sejarah dan pengalaman aksi pemberdayaan perekonomian masyarakat yang pernah dilaksamakan pada dekade 1930an, yang dijalankan dengan dasar pijakan konsep “Mabadi Khoiro Ummah” (landasan membangun masyarakat yang ideal) yang berisi nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Konsep Mabadi Khoiro Ummah tersebut bisa menjadi spirit gerakan penanggulangan kemiskinan dan membangun solidaritas sosial yang luar biasa di masyarakat, termasuk antara kelompok berpunya dengan kelompok miskin maupun marjinal.
Menggeluti aktivitas di lembaga sosial bagi Diana semakin mengasyikan, karena suami dan anak-anak mendukung kegiatannya. Bagi Dia, saling berbagi tanggung jawab di keluarga akan memperlancar segala aktivitas yang dilakukan .Suami dan anak-anaknya sangat mendukung kegiatan yang dilakukannya urusan rumah tangga dilakukan dengan cara saling berbagi tanggung jawab, sehingga semuanya berjalan lancar.
Saat ditanya kenapa tidak memilih jadi Pegawai Negeri Sipil, warga Cipageran Cimahi Utara ini berpendapat, PNS bukan pilihannya. “Panggilan jiwa saya adalah bekerja bersama masyarakat dengan ruang ekspresi dan inisatif yang luas tanpa birokrasi yang rumit. Duduk di belakang meja sama sekali tidak menarik bagi saya, “ pungkasnya mengakhiri obrolan. (Bubun M)











