Bandung, BEDAnews
Menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) rupanya memiliki daya tarik tersendiri. Tak hanya petinggi Partai di Jawa Barat, pengusaha yang juga anggota PDIP Syarif Bastaman ikut mendaftar menjadi anggota DPD dalam Pemilihan Legislatif 2014. “Saya ingin berbuat sesuatu, ingin berbakti,” kata Syarif Bastaman dalam Diskusi Terbatas “Ada Apa dengan DPD” di Bandung, Senin (22/4).
Syarif yang biasa disapa Kang Syabas ini menyatakan, DPD jangan dipandang sebelah mata. Menurut Kang Syabas, bila tidak ada DPD, Indonesia tidak memiliki identitas. “Kepentingan asing itu tidak mau kepentingan lokal terlalu diberi ruang atau diberi kesempatan,” tuturnya.
Syarif mengaku, keinginanannya untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPD bukanlah untuk mencari uang. “Saya ini pedagang. Dari hasil berdagang saya dapat menghidupi keluarga saya. Saya selalu memisahkan kehidupan pribadi dan urusan politik,” tambahnya.
Sementara itu, ditempat yang sama, pengamat politik dari Unpad Dede Mariana menyatakan terkait pencalonan DPD di Pemilihan Legislatif 2014, calon anggota DPD tidak harus mengeluarkan dana. Terlebih jika calon memiliki pendukung rill dan memiliki ideologis. “Mereka tidak perlu keluar uang,” kata Dede.
Melihat fenomena 2009 lalu, untuk DPR sendiri paling sedikit mengeluarkan Rp. 75 juta sebagai cost politiknya, dan paling besar mencapai Rp. 15 miliyar. “Jadi kalau untuk nyalon di DPD bisa sampai Rp. 50 miliyar. Itupun dengan kewenangan terbatas,” jelasnya.
Berbeda jika calon memiliki relasi dan pendukung idiologis, cost itu tidak akan terjadi. Selain itu jika transaksional, politisi sendiri tidak terlalu bertanggungjawab kepada konsituennya. (Lanie)











