BANDUNG, BEDAnews
Kejayaan dan masa ke emasan Islam yang pernah gemilang menguasai dunia, terutama di daratan Eropa, tidak terlepas tradisi dan kultur literacy terhadap karya-karya ilmiah baik dari Yunani, Romawi maupun Persia.
Ketika itu, para filsuf, ilmuwan dan insinyur di dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri.
Untuk mengingatkan sekaligus berusaha mengembalikan masa gemilang Islam itu, Fakultas Saintek UIN Bandung, berpandangan kedepan dengan terus berupaya merekontruksi kultur dan tradisi literasi di bidang sain dan teknologi dengan tetap mengambil rujukan kepada al-Quran dan al-Hadits.
“Kami akan bangun tradisi dan kultur literasi, sebab, dengan litersilah sebagai titik tolak bisa membangun peradaban di bidang sain dan teknologi seperti yang pernah di capai umat Islam terdahulu,“ kata Dekan Fakultas Saintek UIN Bandung, Dr.Ir.M.Subandi, Drs.,MP, diruang kerjanya, Jumat, (19/01).
Dikatakan Subandi, dengan tradisi literasilah kita bisa berkreasi, dan selanjutnya akan terbangun dan mampu berinovasi terhadap sain dan teknologi. “Sebagai seorang muslim, tentu literacy kita tidak lepas dari Quran dan Hadits, sebagai rujukan dan arahan membangun sain dan teknologi yang Islami,“ ujarnya.
Sehingga, lanjut Subandi, kedepannya, saintek yang di hasilkan mampu berkontribusi bagi kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia serta alam sekitarnya.
Untuk itu, sambung Dia, pihaknya sudah menyiapkan langkah–langkah strategis dengan membekali para dosen dengan pendidikan baik S2 maupun S3, membangun system dan manajemen, serta kurikulum mutakhir sesuai aturan pemerintah maupun yang dikeluarkan oleh asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM).
Bukan hanya itu, kata Subandi, pihaknya juga, terus mengadakan seminar nasional/international, memberikan pelatihan dan pembinaan baik intern maupun ekstern di bidang sain dan teknologi.
“Kami beserta para pembantu dekan, dosen, dan karyawan terus membangun kinerja sinergis untuk menyiapkan sarjana atau teknokrat muslim yang menguasai ilmu agama dan saintek, agar masa kejayaan Islam bisa di raih kembali,“ pungkas Subandi. (bud/har)











