Bandung, BEDAnews
Meraih kebahagiaan hidup ternyata penuh liku, perjuangan dan pengorbanan, seperti dialami seorang wanita berusia 40 tahun ini, sebut saja Melati, warga Solo Jawa Tengah, saat berbincang dengan wartawan BEDAnews, di Bandung, Senin (31/12).
Dia bercerita, perkenalannya dengan calon suaminya memang berlangsung singkat. Hanya beberapa bulan saja. Suaminya, seorang pria asal Kota Pontianak Kalimantan Barat, sebut saja Arjuna. Perkawinan antara keduanya pun terjadi. Melati saat menikah adalah seorang muallaf. “Sejak saya menikah dengan dia, saya menjadi seorang muslimah mengikuti agama suami saya, hingga saat ini,” tuturnya dengan mimik sendu.
Setelah menikah, Melati dan Arjuna dikaruniai dua orang anak. Anak pertama mereka laki-laki dan kedua perempuan. Kehidupan keluarga inipun berjalan harmonis. Bahkan ekonomi keluarga merekapaun terbilang mapan. Dengan posisi yang cukup penting di sebuah perusahaan swasta, uang pun menjadi tak masalah. Seluruh kebutuhan keluargapun bisa terpenuhi, roda kehidupanpun terus berputar.
Dipertengahan tahun 2000 an, Arjunapun terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini sempat membuat shock Arjuna. Kehidupan mapan yang dinikmatinya pun berubah drastis. Karena memiliki hutang, akhirnya hartanyapun terjual habis.
Akhirnya, untuk menutupi kehidupan keluarganya, Melati harus rela menjadi pembuat kue pesanan untuk konsumsi salah sebuah sekolah. “Suamiku, meski berpendidikan tinggi, akhirnya harus rela menjadi sopir angkot, sementara aku setiap pagi harus membuat kue pesanan dari sahabatku, karena kebutuhan ekonomi keluarga,” ujar Melati dengan nada parau.
Melihat kerja keras suaminya dengan hasil yang minim, Melati pun merasa iba, lalu menyarankan Arjuna untuk berhenti. Berbekal kebaikan orang tua Melati, dibelilah mobil angkutan yang digunakan untuk antar jemput anak sekolah. Hal inipun tak berlangsung lama, karena angkutan sekolah yang digunakan merupakan kendaraan bekas, yang seringkali rusak dan akhirnya dijual.
Kondisi keuangan keluarganyapun mulai menipis, satu persatu harta yang dimiliki keluarga inipun habis terjual. untuk menutupi hutang dan cicilan yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Beruntung, Melati masih memiliki sisa uang dari penjualan rumahnya. Dengan uang yang ada, dibelilah sebuah rumah type 21.
Setelah kondisi ekonominya terpuruk, kehidupan keluarga ini mulai tak harmonis. Keduanya saling cekcok dan akhirnya perceraianpun tak terhindarkan. Melati akhirnya diceraikan sang suami, mulai talak satu hingga talak tiga, meskipun sempat rujuk beberapa kali.
Namun kehidupan dua sejoli ini tak berjalan mulus. ”Sejak ditalak tiga, suamiku meminta untuk baikan kembali, namun karena aku seorang wanita, sesuai dengan agama Islam, seorang wanita yang sudah ditalak tiga bisa nikah kembali jika sudah menikah dengan orang lain, kondisi ini membuat aku dan dia menjadi bingung, akhirnya kami sepakat mendatangi penghulu disebuh kecamatan. Sang penghulu memberikan solusi. Untuk memenuhi syarat agama, akupun menikahlah dengan kerabatnya, namun sepuluh menit kemudian, kami bercerai,” ucap Melati sambil tersedu.
Rencana Melati dan Arjuna untuk menikah kembalipun diutarakan kepada Ibu Arjuna. Namun hal itu tak disetujui oleh ibunya Arjuna. Karena tak boleh seorang wanita menikah dengan seorang laki-laki tanpa hidup layaknya suami isteri. Kondisi ini membuat bingung keduanya.
Karena masih ada keinginan untuk kembali bersatu, keduanyapun menemui seseorang yang faham soal agama. Orang tersebut, membenarkan apa yang diucapkan ibunya Arjuna. Akhirnya, keduanya dikenalkan dengan sahabat karibya dan menikahkan Melati untuk yang ketiga kalinya, Perkawinan ketigakalinya itu dijalaninya bak suami isteri. Namun, sesuai dengan komitmen, usia perkawinan Melati hanya berlangsung sekitar dua Minggu, akhirnya dicerailah Melati.
Perjuangan Melati untuk memenuhi syarat agama itupun ternyata tak berbuah manis. Arjuna ternyata tak menerima kenyataan yang ada. Meskipun apa yang dilakukan Melati itu merupakan keinginan antara Melati dan Arjuna. Keduanya kembali cekcok dan pernikahan kedua antara Melati dan Arjuna pun tak terlaksana.
“Aku sudah berkorban demi dia untuk kembali bersatu dalam mahligai rumah tangga, namun ternyata dia tak mau menerimanya padahal apa yang aku lakukan atas persetujan dan sepengetahuan dia,” ungkapnya.
Keinginan untuk kembali bersatupun kandas, suamiku tak menerima apa yang aku lakukan. Pengorbanan yang aku lakukan demi keinginan dia ternyata malah berujung cekcok. Aklhirnya akupun memutuskan untuk menghindar dari dia dan tidak mau lagi menjadi isteri dia.
Dua minggu sejak kejadian itu, dia ternyata sudah menikah di kota kelahirannya. “Sia sia rasanya pengorbananku untuk memenuhi keinginan dia,” ujar wanita beranak dua ini mengakhiri obrolan. (Bubun M)











