“Bandung menjadi tonggak lahirnya solidaritas bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, bukan hanya dalam politik, tetapi juga dalam perjuangan identitas budaya,” pungkas Fadli yang juga menggarisbawahi bahwa, prinsip-prinsip Dasasila Bandung tetap relevan hingga hari ini untuk menghadapi dunia yang semakin terpolarisasi.
Sebagai bentuk pengakuan internasional, arsip dan dokumentasi Konferensi Asia Afrika telah diinskripsi dalam daftar _Memory of the World_ UNESCO sejak 2015. Fadli juga menyatakan dukungan terhadap prakarsa komunitas pelestari dan sejarawan untuk mengusulkan Gedung Merdeka dan kawasan Jalan Asia-Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO dan Bandung sebagai Kota Diplomasi.
“Bandung adalah kota bersejarah yang menghidupkan semangat solidaritas global, dan merefleksikan kepemimpinan Indonesia di kancah dunia. Melalui pelestarian warisan budaya, kita perkuat jati diri bangsa, dorong kerja sama budaya sebagai jantung solidaritas global dan dukung peran Indonesia sebagai bangsa yang berani mewarnai arah dunia dengan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan perdamaian,” tutup Fadli. (Red).












