Melalui prangko dan benda filateli tersebut, pengunjung diajak merefleksikan perjalanan perjuangan Negara-negara ‘Dunia Selatan’ (_Global South_) dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan setara.
“Prangko adalah ekspresi kedaulatan. Seperti halnya uang, prangko menjadi simbol identitas dan medium diplomasi budaya. Prangko juga menjadi suatu cermin budaya, politik, dan identitas bangsa sehingga dapat menjadi momentum kita dalam mengenang sejarah perjuangan bangsa, termasuk momen bersejarah seperti KAA ini,” ujar Fadli.
Puncak kegiatan ditandai dengan Seminar Hari Warisan Dunia dalam Rangka Peringatan 70 Tahun KAA yang dihadiri oleh para akademisi, sejarawan, masyarakat dan pelaku budaya lintas generasi.
Dalam pidatonya, Fadli menegaskan bahwa, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pelindungan warisan budaya di tengah bencana, konflik dan volatilitas global.












