SGPLB merupakan program pendidikan khusus yang dirancang untuk mencetak guru yang memahami karakteristik anak Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Autisme serta anak dengan gangguan perilaku khusus.
“Waktu itu jadi dilema, saya harus pilih salah satu, lanjut kuliah atau anak-anak saya sekolah dan akhirnya saya pilih untuk anak-anak,” tutur Dedi lirih.
Sebagai guru sukarelawan (sukwan), Dedi sempat menerima honor hanya Rp50 ribu per bulan, dan itupun sering dibayarkan secara dicicil.
Ada masa-masa di mana honor tersebut baru diterima setelah menunggu berhari-hari. Untuk menutup kebutuhan hidup keluarga, Dedi kerap menjadi ojek setelah jam sekolah.
Meski kini honor yang diterimanya telah lebih layak, sekitar Rp2 juta per bulan, prinsip hidupnya tetap sama. “Yang penting anak-anak bisa belajar dan tenang soal gaji kecil ya saya jalani saja,” ungkap Dedi Selasa (25/11/2025).
![{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"addons":1,"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}](https://bedanews.com/wp-content/uploads/2025/11/Picsart_25-11-26_01-04-45-413.jpg)










