TNI-POLRI

Pasca Aksi 22 Mei, KAMI Indonesia Ajak Masyarakat Rekatkan Perbedaan

BANDUNG, BEDAnews,- Pasca aksi 22 Mei, banyak pihak yang menyadari pentingnya merajut persaudaraan usai kontestasi Pemilihan Umum 2019 silam. Salah satunya adalah Komunitas Milenial Ma’ruf Amin untuk Indonesia (KAMI Indonesia).

Melalui KAMI Indonesia Institute menyelenggarakan diskusi bertajuk ‘Merajut Kembali Perbedaan dan Friksi Merengkuh Indonesia Maju’, di Hotel Horison Bandung, Sabtu (25/5) petang.

Direktur Eksekutif KAMI Indonesia Institute Rahmat Jabaril mengatakan, acara ini merupakan bentuk kesadaran mereka atas kondisi di Tanah Air saat ini pasca pesta demokrasi.

“Kami mengajak kawan-kawan semua, bahwa kita dilahirkan dari rumah yang sama, yaitu Indonesia. Agar rumah ini tidak berantakan dan yang rugi kita semua, mari kita jaga bersama,” ujar Rahmat didampingi Sekretaris Jendral KAMI Indonesia Jawa Barat, Rian Andi Sumarno.

Rahmat mengatakan, saat ini adalah momen untuk membuat Indonesia kembali disegani oleh dunia internasional. Dirinya tak mengharapkan kondisi yang di Timur Tengah, seperti Suriah, terjadi di Indonesia, karena konflik dalam negeri yang tak henti-henti.

“Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kepada kaum elite, untuk terus merajut persaudaraan,” ungkap dia.

Sementara Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Karim Suryadi berharap, segala konflik politik yang kian memanas harus disudahi. Ini mengingat situasi politik akhir-akhir ini.

“Kuncinya begini, konstestasi sudah selesai dan potensi konflik sudah dikanalisasi ke ranah MK, tinggal sekarang kita ciptakan iklim yang kondusif,” katanya saat bertindak sebagai narasumber pada kegiatan ini.

Ia pun menginginkan semua pihak untuk menahan diri dari situasi ini, sehingga kesatuan dan persatuan bangsa ini tetap terjaga.

“Kuncinya hanya satu, stop mengatakan kami dan mereka, tapi kita mulai perkuat kekitaan. Kekitaan sebagai indonesia,” ungkapnya.

Tak hanya itu, untuk menciptakan iklim positif dalam dunia politik saat ini, pihak-pihak yang merasa dirugikan karena menilai ada ketidakjujuran, mempersilahkan untuk membawanya ke tingkat Mahkamah Konstitusi.

“Yang kedua agak sulit mengharapkan kedamaian apabila keadilan tidak ada. Oleh karena itu bila masih ada kelompok yang merasa ada kecurangan ada ketidakadilan. Maka selanjutnya adalah jangan pernah menciptakan seusatu yang bisa dipersepsi sebagai tindakan tidak adil. Maka dari itu mari kita biarkan MK bekerja menurut fakta yang ada, fakta-fakta persidangan yang teruji, dan biarkan mereka mengambil keputusan yang independen,” tuturnya.

Menurutnya, tidak ada cara yang terbaik dalam menyelesaikan masalah ini selain mengembalikan kepada pilar politik dan demokrasi yang berlaku di negara ini, yakni memperkuat landasan politik dan landasan moral.

“Bila selama sembilan bulan terakhir kita didominasi oleh landasan politik, taktik, maka saatnya sekarang kita memperkuat landasan moral ketuhanan yang maha esa, memperkuat dimensi etik yang melandasi kekuatan politik kita,” tandasnya. [mae]

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close