HukrimHukum

IAS Pembuat Video Ujaran Kebencian Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara

BANDUNG, BEDAnews.com,- Pembuat video ujaran kebencian Iwan Adi Sucipto alias Iwan AS (IAS) mengaku terpancing emosi dengan situasi politik yang terjadi saat ini. Hal ini menjadi motif dirinya membuat video yang kemudian disebarkan di media sosial miliknya, Minggu (12/5/2019).

“Saya hanya ustad kampung jadi tidak tahu apa yang saya sampaikan dalam video itu melanggar hukum,” kata pria yang mengaku sebagai satgas tim relawan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kepada wartawan di Direktorat Kriminal Khusus Mapolda Jabar Jalan Soekarno Hatta 748 Bandung, Selasa (14/5/2019).

IAS juga mengungkapkan penyesalannya dan mengaku apa yang disampaikanya di dalam video itu hanya bentuk emosi.

Menurutnya ia membuat dan menyebarkan video tersebut berdasarkan inisiatif pribadi dan tidak diperintahkan oleh siapapun.

“Saya merasa sangat bersemangat dan ingin Indonesia mendapat pemimpin yang berakhlak mulia,” ujarnya.

Sementara Kabid Humas Polda Jabar Kombes Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan tersangka IAS diancam Pasal 45 A ayat 2 Junto Pasal 28 Ayat 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI 11 tahun 2008 tentang ITE, dan atau pasal 14 dan atau asal 15 UU RI nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

“Ancamannya hukuman 6 tahun penjara dan denda paling banyak Rp. 2 Milyar,” kata Truno.

Trunoyudo mengatakan, tersangka membuat video yang dinilai provokatif dengan mengadu domba antara TNI-Polri.

“Tugas pokok TNI dan Polri itu menjaga kedaulatan negara. Berarti yang bersangkutan ada ketidak-keinginan dengan solidnya kedua institusi ini,” kata Truno.

Tersangka mengunggah sebuah video berdurasi 1.53 detik di akun Facebook miliknya, yang kontennya berisi ujaran kebencian tentang seruan kepada rakyat untuk ‘jangan takut dengan ancaman Kapolri dengan ditembak di tempat, itu menjadikan lebih panas dan lebih marah, itu ungkapan yang tidak pantas seorang Kapolri bicara seperti itu’.

Unggahan itu diposting sebanyak tiga kali di akun yang sama, dan telah mendapat empat komentar dan dibagikan kembali sebanyak 21 kali oleh warganet lain.

“Selain itu, ada kalimat-kalimat yang memprovokasi untuk membenturkan intitusi TNI dengan Polri,” ungkap Truno.

Truno mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi atau berita-berita yang beredar. Pihaknya juga meminta supaya warga tidak membuat berita hoaks yang tujuannya untuk memprovokasi.

“Kita baru melalui pesta demokrasi yang diselenggarakan sesuai undang-undang. Sekarang mari kita kembali ke kehidupan sosial seperti sebelumnya,” tandasnya. [mae]

Selanjutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close