Regional

Tank Harimau Buatan Pindad Diminati Negara Asia

Bandung. BEDAnews,-

Kementrian Pertahanan RI menandatangani kontrak pengadaan Alat Utama System Senjata (Alutsista) dengan nilai total 1,4 milyar US dolar serta 2,1 trilyun rupiah, dengan beberapa BUMN serta pihak swasta, di PT. Pindad Persero Kota Bandung, Junat (11/4).

Selain itu juga ditandatangani proyek infrastruktur. Penandatangan kontrak kerja yang langsung disaksikan Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu tersebut, masing-masing untuk PT.Pindad pengadaan kendaraan tempur (ranpur) Infantri senilai USD 82 juta,  ranpur Kavaleri USD, 135 juta, senjata ringan Infantri Rp.147,5 miliar dan munisi kaliber kecil Rp.184,49 miliar.

Lalu, PT. PAL, kapal selam elektrik USD 1,2 miliar. PT. Dirgantara Indonesia kontrak pengadaan Helikopter NAS-332C1 USD 236,987 miliar, PT. Len untuk pengadaan infrastruktur simulator Sukhoi  hampir Rp.1 milyar, Comm Tactical Datalink SystemRp.340 miliar dan pengadaan Radar Medium Range senilai Rp.375 miliar.

Kontrak kerjasama juga ditandatangani dengan PT Dahana, pengadaan Bomb P -250 live Rp.104,7 miliar. Sedangkan kontrak kerjasama yang ditandatangani  dengan pihak swasta diantaranya pengadaan alsus Nubika, jihandak serta kapal angkut tank 8 dan 9.

"Ini merupakan terobosan, disatukan semuanya. Kita jangan sampai permintaan pak Jokowi ini, yang pertama ini harus selesai semua. Dengan demikian kita transparan dan professional tersebut merupakan cerminan dari reformasi birokrasi,"ucap Ryamizard usai acara penandatangan kerjasama.

Selain itu juga ungkapnya, kerjasama dengan BUMN, itu untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional. Karena saat ini Indonesia sendiri sudah diperhitungkan oleh dunia, mengenai industri pertahanan.

"Harapan kita ini harus dipegang terus, jangan sampai hangat-hangat tahi ayam. Dan semuanya sudah komitmen, jadi betul-betul kita akan profesional, nanti kedepan dan Insya Alloh tidak lama lagi akan menjadi industri pertahanan yang mandiri,"ungkapnya.

Lebih lanjut mantan perwira tinggi militer TNI AD itu mengatakan, dengan era globalisasi baru, Indonesia harus berubah dari bangsa konsumen menjadi produsen.

"Komitmen mengggunakan produksi dalam negeri untuk penuhi keperluan aparat TNI dan Polri. Agar industri pertahanan dapat mengembangkan teknologi dan kedepannya dapat penuhi kebutuhan alutsista,"ujarnya.

Ryamizard juga menegaskan, saat ini Indonesia sudah masuk urutan 10 pertahanan dunia, yang sebelumnya menempati urutan 19 dunia.

Dengan adanya reformasi birokrasi, Ryamizard berharap dapat mempercepat pengadaan alutsista yang maju dan modern serta diperhitungan di dunia.

Selain pengadaan alutsista pada kesempatan itu juga ditandatangani kontrak kerjasama, pembangunan infrastruktur fasilitas TNI di Indonesia. [mae]

 

Selanjutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close