Politik

Alumni Aktivis 98 Tolak Capres Pelanggar HAM

Bandung, BEDAnews

Perhimpunan aktifis mahasiswa (PENA) 98 menyatakan dukungan kepada Calon presiden (Capres) petahana 01 Jokowi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Mereka beralasan pilihan dijatuhkan kepada Jokowi karena tidak memiliki catatan kriminal kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) dibandingkan Capres 02 Prabowo Subianto.

Presidium PENA 98, Rafael Situmorang menjelaskan, keputusan tersebut diambil berdasarkan urung rembug dari tingkat Nasional. Bila terpilih jadi presiden untuk keduakalinya, ia berharap Jokowi dapat melanjutkan penanganan kasus HAM dari empat tahun ke belakang.

“Kita belum puas dengan penanganan sekarang, kita realistis belum puas. Namun 02 sudah tidak mungkin ada ruang. Dalam pertarungan itu kan pasti ada pilihan,” ujar Rafael di Bandung Jawa Barat, Kamis(14/3).

Rafael menilai, jika Prabowo dibiarkan memimpin, tak menutup kemungkinan sistem otoriter akan kembali berlaki di tanah air. 

"Yang jelas aktornya masih ada, polanya sama, kejadian 98 itu kan anti China. Ini dua pilihan kalau yang 01 masih ada harapan, tapi kalau yang 02 tidak mungkin, ini lawan politik," katanya.

Pihaknya juga meminta agar lembaga hukum mengusut tuntas pihak – pihak yang terlibat dalam kejahatan HAM 1998 baik yang berada di kubu 01 atau 02

"Kami berharap agar kasus ini diusut tuntas. Hasil invetigasi Komnas HAM jelas yang berpotensi melakukan itu Pak Prabowo. Kalau Pak prabowo jadi presiden, gimana mengusutnya," ujar dia.

Menurut Rafael, mantan aktifis 98 ingin agar pemimpin Indonesia bersih dari catatan kelam pelanggaran HAM dan dosa – dosa masa lalu.

Karena, tegasnya, keterkaitan atau keterlibatan Capres dalam kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu akan menjadi contoh buruk bahkan ancaman bagi masa depan demokrasi, negara dan rakyat Indonesia.

"Kami tidak sudi, bangsa ini mengotori sejarahnya dengan membenarkan pelanggar HAM terbebas dari hukuman dan bahkan dibiarkan menjadi pemimpin di negeri ini.

Kami tidak mau, masa depan bangsa ini harus diserahkan ke tangan orang yang berlumuran darah saudaranya sendiri.

Kami ingin, anak-anak kami, generasi muda saat ini bisa mewarisi negeri yang mampu memberikan keadilan, menegakkan hak asasi manusia dan terbebas dari mimpi buruk masa lalu," tandasnya. [mae]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close