Hukum Kriminal

Bahar bin Smith Didakwa Pasal Berlapis

Bandung, BEDAnews

Sidang perdana perkara penganiayaan terhadap anak dibawah umur dengan terdakwa Bahar bin Smith alias Habib Bahar (36) digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Kamis (28/2).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Cibinong mendakwa Bahar dengan pasal berlapis.

Dalam paparannya, JPU menerangkan, Bahar bersama-sama dengan Agil Yahya alias Habib Agil dan M Abdul Basith Iskandar (dakwaan terpisah), Habib Husein, Wiro, Ginda Tato dan Keling (belum tertangkap) pada Sabtu tanggal 1 Desember 2018 sekitar pukul 11.00 WIB, di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di Kampung Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, melakukan penganiayaan terhadap korban CAJ (18) dan MHU (17).

Penganiayaan dilakukan karena korban dianggap menipu dan mengaku-aku sebagai Habib Bahar dan mengisi acara di Bali.

Sebelumnya, setelah mendengar ada seseorang yang nengaku-aku dirinya, terdakwa memerintahkan anak buahnya untuk mencari korban dan membawanya ke Ponpes Tajul Alawiyyin. Di sana, Agil Yahya sempat merekam video sambil mengatakan,

"Ini nih yang ngaku-ngaku jadi Habib Bahar di Bali dan mau diinvestigasi".

Korban CAJ yang pertama diinterogasi oleh terdakwa, namun CAJ melimpahkan kesalahan kepada korban MHU. Atas perintah terdakwa, kemudian dijemputlah MHU dan dibawa ke Ponpes Tajul Alawiyyin.

Kemudian CAJ dan MHU tidak dapat berbuat apapun selain telah diinterogasi. Mereka dianiaya oleh terdakwa, oleh Agil Yahya, Hamdi dan oleh sekitar 15 orang santri lainnya dalam pontren tersebut.

JPU mengatakan, korban kemudian dianiaya dengan menggunakan tangan kosong yang dikepalkan, ditendang dengan kaki, dengan lutut pada tubuh bagian kepala, rahang dan mata secara berkali-kali.

"Korban CAJ dan MHU oleh terdakwa disuruh berkelahi, sehingga akibat pukulan dan tendangan ke anggota tubuhnya tersebut, korban CAJ dan MHU mengalami luka-luka dan lebam pada bagian muka, kelopak mata kanan dan kiri, selaput bening bola mata kanan dan kiri, serta pada anggota tubuh lainnya," kata JPU Bambang Hartoto, yang juga menjabat sebagai Kejari Cibinong, membacakan surat dakwannya.

Tak cuma itu, kata JPU, perbuatan terdakwa berlanjut. Rambut korban CAJ dan MHU dicukur sampai kepala botak tanpa rambut dan dijaga oleh para santri. Malam hari di tanggal yang sama, CAJ dan MHU oleh terdakwa diperbolehkan pulang meninggalkan Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin.

JPU menyatakan, akibat perbuatan terdakwa bersama-sama dengan Agil Yahya dan Hamdi, korban CAJ dan MHU mengalami luka-luka yang menimbulkan halangan dalam melakukan pekerjaan untuk sementara waktu dan dirawat di Rumah Sakit.

JPU juga menerangkan, sesuai dengan Visum Et Repertum : Visum Et Revertum No. R/359/VER-IGD-KFD/XII/2018/Rumkit Bhay Tk I Tanggal 5 Desember 2018 A/n. CAJ yang ditandatangani oleh dr. Abe Umaro, dan dr. Niken Budi S,SpF, MH.Kes, diperoleh kesimpulan hasil pemeriksaan terhadap korban CAJ.

"Telah dilakukan pemeriksaan terhadap seorang laki-laki yang berusia delapan belas tahun.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan memar kelopak mata kiri dan perdarahan pada selaput bening mata kiri akibat kekerasan tumpul. Luka luka tersebut telah menimbulkan penyakit dan halangan dalam melakukan pekerjaan dan jabatan/pencaharian untuk sementara waktu," kata JPU mengutip kesimpulan visum.

Selain CAJ, visum juga dilakukan terhadap korban MHU. Visum Et Revertum No. R/347/VER-IGD-KFD/XII/2018/Rumkit Bhay Tk I Tanggal 15 Desember 2018 A/n. MHU yang ditandatangani oleh dr. Rido Jati Kuncara, dan dr. Niken Budi S,SpF, MH.Kes, menyimpulkan, pada pemeriksaan fisik ditemukan memar pada kepala sisi kanan, pelipis kanan, telinga kanan, kelopak mata kanan dan kiri, pipi kanan, luka lecet pada lengan kiri, bahu kanan, perdarahan pada selaput bening bola mata kanan dan kiri akibat kekerasan tumpul.

"Luka-luka tersebut telah menimbulkan penyakit dan halangan dalam melakukan pekerjaan dan jabatan/pencaharian untuk sementara waktu. Pada pemeriksaan Rontgen mata didapatkan curiga gambaran patah pada tulang mata bagian atas-tengah kanan.

Pada pemeriksan CT-Scan pada kepala didapatkan pembengkakan otak bagian tengah. Pada pemeriksaan dokter Spesialis Syaraf didapatkan Cidera kepala ringan," ungkap JPU.

Atas perbuatannya, Bahar didakwa melanggar dakwaan kesatu primer, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 333 ayat (2) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUH Pidana. Ia juga didakwa dengan dakwaan subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 333 ayat (1) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUH Pidana.

Bahar juga didakwa dakwaan kedua primair,sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (2) ke- 2 KUHPidana.

Perbuatan terdakwa Bahar juga didakwa dakwaan subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHPidana.

Kemudian, JPU juga mendakwa Bahar dengan dakwaan lebih subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (2) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana dan lebih subsidsir lagi sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana.

Yang terakhir, Bahar didakwa dakwaan ketiga sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 80 ayat (2) Jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Atas dakwaan yang telah dibacakan, Bahar dan penasihat hukumnya akan mengajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan. Sidang selanjutnya akan digelar tanggal 6 Maret 2019. Ketua Majelis Hakim, Muhammad Edison memutuskan sidang dipindahkan ke Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung di Jln. Seram. JPU maupun pihak terdakwa menyepakatinya. [mae]

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close